Cerita Kebijaksanaan : Garam dan Telaga

January 14, 2008 at 7:14 pm 1 comment

 

Saya mendapatkan cerita ini dari teman baik saya, silahkan baca sendiri ceritanya !

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yangs edang dirundung masalah. Langkahnya gontai dan
air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak
bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu
mengambil segengam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas
air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “coba
minum air ini, dan katakan bagaimana rasanya..”ujar pak tua itu.
“asin. Asin sekali!” jawab sang tamu sambil meludah kesamping.
Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya untuk berjalan
ketepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk aduk dan tercipta
riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga
ini, dan minumlah.” Saat tamu itu selesai mereguk air itu, pak tua
berkata lagi “Bagaimana rasanya?”
“biasa saja. Segar..” jawab tamunya. “apakah kamu merasakan garam dalam
air itu?” tanya pak tua lagi. “tidak” jawab sai anak muda.

Dengan bijak pak tua mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping
telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya
segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu
adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah
yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat
kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita. Jadi
saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dada mu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah
tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti
gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu
dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Entry filed under: Renungan. Tags: , , , .

Rakyat Antri, Pak Harto Pun Antri Probosutedjo Bisa, Kenapa Narapidana Lain Tidak ?

1 Comment Add your own

  • 1. taufik Jambi  |  May 27, 2008 at 7:56 am

    ngayal aja teruzzzzzzzzzzzz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Jumlah Kunjungan

  • 86,781 hits

Kalender

January 2008
M T W T F S S
    Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d bloggers like this: